RESENSI FILM HIJRAH CINTA
RESENSI
FILM HIJRAH CINTA
Pemain :1. Alfie Alfandy (
Jefriy Al-Buchori)
2. Revalina S Temat (Pipik Dian Irawati)
3. Wieke Widowaty (Umi Tatu)
4. Piet Pagau (Apih / H. Ismail)
5. Valentino (Gugun Gondrong)
6. Surya Insomia (Iwel Sastra)
7. Ananda Omesh (Yosi)
8. Fikha Effendi (Widi)
10. Abidzar Al-Ghifari (Uje Kecil)
Produser : Ram Punjabi
Sutradara : Indra Gunawan
Kreatif : Raakhee Punjabi
Skenario : Hanung Bramantio (Team Dapur Film)
Durasi : 116 menit
Latar Belakang:
Film Hijrah cinta adalah sebuah film karya Hanung Bramantio yang
diangkat dari kisah nyata perjuangan hijrah Ustad Jefry Al-Buchori untuk lepas
dari jeratan narkoba dan kembali pada jaln-Nya. Kita semua tahu bahwa sosok Uje
sebelum beliau terkenal sebagai Ustad kondang yang kerap mengisi tausyiah di
berbagai tempat hingga sering menghiasi layar kaca dahulu adalah sosok yang tak
jauh dari dunia hitam.
Film ini adalah film yang dibuat untuk mengenang almarhum Uje.
Beliau terkenal sebagai ustad gaul yang sederhana. Melalui film ini kita dapat
belajar bahwa setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan Allah selalu
memberikan kesempatan untuk memperbaikinya. Pintu maaf Allah selalu terbuka
bagi hambaNya yang bersunguh-sungguh ingin bertaubat.
Serpihan
perjalanan hidup ustad gaul yang menggetarkan dan mengharukan ini menjadi kisah
film yang berbicara mengenai cinta, persahabatan dan dakwah. Meskipun film ini
tidak mengisahkan kehidupan Uje secara keseluruhan, namun film ini sudah mampu
menjawab penesaran penonton akan sosok Uje.
Isi:
Film Religi "Hijrah Cinta" adalah kisah nyata dari
perjuangan almarhum Ustad Jeffry Al Buchori (Uje) untuk melewati
berbagai godaan dunia dan kembali pada titik penyadaran. Awal film ini
menceritakan tentang kepribadian Uje yang tenggelam dalam kenikmatan dunia, terjerumus
dalam jeratan narkoba hingga Uje meninggalkan bakat dan potensi yang dimilikinya.
Kesempatan menjadi aktor ternama dan model terkenal ia sia-siakan. Bahkan gelar
da’i cilik yang dulu pernah disandangnya harus dikubur dalam.
Hingga pada suatu ketika Uje bertemu dengan Pipik Dian
Irawati, sosok wanita yang mampu mengubah hidupnya. Sejak awal berjumpa, Uje
sudah meyakini bahwa Pipik adalah wanita yang mampu menuntunnya ke arah yang
lebih baik.
Disaksiakn desir ombak di pantai Semarang, Uje meminta Pipik untuk
menjadi saksi perubahan hidupnya. Pipik pun menyetujuinya karena Pipik yakin
bahwa Uje yang dicintainya adalah lelaki yang juga mampu membimbingnya ke arah
yang lebih baik, ia memiliki tekad yang besar untuk merubah hidupnya. Ucapan
Uje ini sekaligus menjadi janji dan titik balik dalam hidupnya.
Tak lama kemudian setelah janji itu terucap, mereka menikah, Pipik mulai membiasakan diri
untuk berhijab, karena baginya, hijab bukan hanya melindungi dirinya dari
kejahatan, tetapi juga melindungi suaminya. Namun menjalankan tekad perubahan
bagi Uje tak semudah berucap, bahkan setelah menikah Uje masih tetap memakai
narkoba, barulah saat Pipik mengandung anak pertama Uje mulai membiasakan diri
untuk lepas dari jeratan benda haram ini. Tentu saja dalam hal ini Pipiklah
yang berperan sebagai malaikat penyelamat.
Cobaan Uje tidak berhenti sampai disini, di tinggal ma’mum ketika
mengimami sholat, tak didengarkan teman ketika sedang memberi nasihat, namun
itu semua tidak menjadi halangan bagi Uje untuk semakin berusaha memperbaiki
diri.
Awal dakwah Uje dimulai ketika Uje diminta menggantikan kakaknya
untuk mengisi khotbah jum’at di salah satu masjid di Jakarta. Isi dakwahnya
menceritakan tentang perubahan kehidupan Uje, yang dahulu pernah berada pada
titik terendah, hingga sekarang Uje mampu berada pada titik yang lebih tinggi. Isi
khotbah tersebut tidak disangka dapat menggetarkan hati para jama’ah.
Serentak semua jam’ah tersentuh dan menangis tak menyangka bahwa
seorang Uje yang dahulu terkenal dengan sosok yang pemabuk dan pemakai narkoba
kini mampu merubah hidupnya.
Pada hari ini juga pertama kalinya Uje memberikan nafkah dengan
cara halal bagi isteri dan anak pertamanya. Dakwah Uje masih berlanjut, Uje
menjadi da’i yang terkenal diundang untuk mengisi tausiyah di seluruh penjuru
Indonesia, bahkan Uje dikontrak oleh salah satu stasiun TV untuk mengisi acara
religi.
Hingga sampailah pada tahun
2012, Uje mulai menampakkan keletihannya tak ada seorang yang menyadarinya
kecuali isteri tercinta. Uje malu kepada Rasulullah karena setiap kali
melakukan dakwah dan mendapat imbalan.
Sebelum kepergian Uje, beliau sempat meminta agar Pipik melanjutkan
dakwahnya. Uje pun sempat meminta maaf kepada ibunda tercinta. Suatu malam Uje
berpamitan untuk menemui temannya di salah satu cafe, melihat keadaan Uje yang
kurang sehat, temannya menawarkan diri untuk mengantarkan Uje, namun Uje
menolaknya. Karena kekhawatirannya, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti
Uje.
Uje mengendarai motor dengan kecepatan yang tinggi, hingga beliau
lepas kendali dan akhirnya kecelakaan tidak dapat dihindari. Motor yang
dikendarainya menghantam sebuah pohon di tepi jalan. Luka yang diderita Uje
cukup parah, beliau tak sempat sadarkan diri. Beliau sempat dibawa ke Rumah
Sakit namun sayang nampaknya Allah lebih menyayangi Uje.
Kullu nafsin dzaiqatul maut “sesungguhnya sesala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati. Bagi
mukminin mukminat kematian adalah sesuatu yang dirindukan”. Uje berpulang pada
tanggal 26 April 2013 dengan meninggalkan seorang isteri yang sangat
mencintainya dan empat buah hati yang juga sangat menyayanginya.
Selamat jalan Uje semoga amal ibadahmu diterima disisi Nya.
Kelebihan :
Film ini mengajarkan kita bahwa dakwah tidak harus melalui mimbar,
dakwah juga bisa dilakukan dengan memproduksi film yang bernuansa mendidik dan
membimbing penonton ke arah yang lebih baik.
Kekurangan :
Terdapat beberapa adegan tambahan yang tidak sesuai dengan realitas
untuk kepentingan dramatis, yang pernah dikritisi oleh keluarga Almarhum.
Kesimpulan :
Hijrah, adalah berpindah dari tempat yang lama ke tempat yang baru.
Film ini mengingatkan kita bahwa setiap jiwa pasti akan merasakan kematian,
untuk itu kita harus selalu menyiapkannya.
Titik tertinggi seseorang bukan terletak pada saat ia berada
diatas. Namun, titik tertinggi seseorang terletak ketika ia mampu mengakui
kerendahannya saat ia dekat dengan sumber cahaya.
SEMOGA BERMANFAAT ....







