Cerpen Islami
Laa Tahzan
Assalamu’alaikum
kawan, semoga kesehatan selalu menyertai kita: Laa
Tahzan, TAK ADA MASALAH TANPA SOLUSI, BERDO’ALAH SEMUA MASALAH PASTI DAPAT TERATASI.
Simak saja sepenggal kisah ini...
Aku Diyan, namaku adalah Diyan.
Mulanya aku terheran, ketika teman kecilku yang kini telah beranjak
dewasa untuk pertama kalinya menghubungiku. Sungguh sulit untuk dipercaya, Dika
yang terkenal dengan pria acuh dan selalu menyembunyikan perasaannya kali ini
dia mau membagi “masalahnya” kepadaku.
Sabtu malam, kala itu kudengar suara motor berhenti di depan rumahku.
Aku bergegas membukakan pintu, ku yakin pasti Dika yang datang. Benar saja
tebakanku, Dika yang datang. Tanpa berfikir panjang, ku persilakan dia masuk
dan duduk di kursi yang sudah tidak muda lagi usianya.
Sekilas ku tatap wajahnya, kali ini dia terlihat tak seperti biasa,
dahinya tiba-tiba mengerut seakan memberi isyarat pada ku bahwa dia sedang
banyak pikiran. Belum sempat aku tanyakan maksud kedatangannya, dia sudah mencurahkan
isi hatinya “Ku harap suatu hari nanti aku bisa terlepas dari masalah ini,
masalah yang selalu menghantuiku, ini masalahku, masalahku sendiri”. Ungkap Dika yang kala itu duduk disampingku.
Aku terdiam sejenak, dalam hati ku bertanya “ada apa dengan anak
ini?”. Dia menatapku, matanya yang berkacah seakan ingin meneteskan air mata,
namun seperti ada batu yang menghalanginya. “Kau kenapa? Ada masalah apa?”.
Ku coba untuk menanyakan tentang masalahnya.
Dia hanya terdiam dan merunduk, seakan tak ingin memperlihatkan
kesedihannya padaku. Aku mengulangi pertanyaan ku “Sebenarnya kau kenapa?,
percuma saja kau datang, jika kau hanya diam membisu!!”. Ujarku.
Dika mengangkat kepalanya, dan kembali menatapku, entah ini tatapan
apa, terlihat sulit sekali untuk diterjemahkan. Seperti ada banyak hal yang
ingin dia ungkapkan kepadaku, namun lagi dan lagi, dia hanya menahannya. Yang
aku takutkan, jika dia sakit hati karena perkatanku tadi, dan tak jadi
bercerita lalu pergi meninggalkanku, mengingat dulu Dika adalah anak yang
gampang ngambek. Huffft, akhirnya... aku lega, kali ini kekhawatiranku
tak terjadi.
“Yan, sebenarnya aku mendaftarkan diri di Akademi Kepolisian”.
Ungkapnya dengan nada datar. Aku terkejut sekaligus heran, ternyata masuk ke
AKPOL adalah masalahnya.
“Wow, hebat!!
Lalu ? dimana masalahnya?”. Dengan nada yang penuh antusias aku menanggapi
pernyataannya.
“Sejak kecil,
aku bercita-cita untuk menjadi seorang polisi, Ibuku adalah orang pertama yang
mendukungku. Namun, tak ku sangka ternyata banyak sekali halangannya. Pertama,
kau tahu kan? Jikalau aku bukanlah seorang dari kalangan berada? Biaya mengurus
berkas untuk menjadi seorang Polisi tidaklah sedikit!!”.
“Kedua, batas
terakhir pengumpulan berkas adalah hari ini, dan masih banyak berkas yang belum
ditanda tangani oleh pihak yang bersangkutan”.
“Belum lagi
sikap dari seorang Polisi yang kutemui tadi, dia menawariku untuk masuk ke
AKPOL dengan cara yang tidak sehat, dengan kepastian aku diterima menjadi
seorang polisi, namun dengan biaya yang lebih mahal”. Ujar dia, nampaknya kesal
dengan polisi yang ditemuinya tadi.
“Lantas kau
menerimanya?”. Tanyaku padanya. “Tiddak!!, jika untuk menjadi aparat yang
bertugas untuk mengayomi dan melindungi masyarakat sudah dilakukan dengan cara
yang tidak benar, lantas dimana letak kejujurannya? Sedangkan kejujuran adalah
nilai yang utama dalam hal ini”. Aku terdiam mendengar jawabannya, tak ku
sangka teman kecilku sekarang mampu berfikir dengan bijaksana.
“Hufft,
nampaknya langkahku harus terhenti sampai di sini”. Ujarnya dengan nada pasrah.
“Apa tak ada
cara lain? Apa kau tak bisa meminta toleransi?”. Tanyaku padanya.
“Jelas tidak
ada!!, mereka adalah lembaga yang sangat disiplin, bagaimana bisa mereka
memberi toleransi terhadap keterlambatan pengumpulan berkas???!!”. Ungkap Dika
dengan nada tinggi. Aku terkejut, seakan dia baru saja membentakku.
“Tapi...
bagaimana dengan Ibuku?? Ibuku belum tahu mengenai hal ini. Ibuku masih saja
bersiteguh menyuruhku masukke AKPOL padahal sudah jelas sekali bahwa aku tak
dapat melanjutkannya”.
Dika terdiam
sambil sesekali dia menyeruput teh panas yang ku sediakan. Setelah sekian lama
aku tunggu kesempatan dia diam, akhirnya aku mendapatkannya. Kini giliran ku
yang berbicara “Sudah? Sudah kau keluarkan semua masalahmu? Sekarang giliranku
yang berbicara!!!”. Ungkapku dengan nada yang sedikit membentak. Dika terdiam
dan menatapku.
“Sekarang aku
paham masalahmu, ibarat makan buah simalakama, sekarang keputusan ada di tangan
mu, lanjutkan atau hentikan. Masuk ke AKPOL adalah cita-cita mu, bahkan Ibumu
telah memberikan restunya kepadamu, saranku sebaiknya kau lanjutkan saja
perjuanganmu! Untuk masalah keterlambatan pengumulan berkas cobalah kau datang
dan meminta toleransi dengan baik, kemungkinan dapat diterima jika alasanmu
rasional!” Ungkapku secara tegas.
“Sudah ku
bilang pasti mereka tidak bisa menerimanya”. Ujar Dika. “Dari dulu hingga
sekarang sifatmu yang suka menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak nampaknya
belum hilang!! Coba saja dulu baru berkomentar!!” Kali ini aku mulai kesal,
sifat lamanya yang suka ngenyel dan suka menyimpulkan sesuatu sebelum
bertindak nampaknya belum hilang.
“Untuk Ibumu,
berbicaralah kepada Ibumu ketika kau sudah melakukan nasihatku yang pertama, berbicaralah
ketika suasana hati Ibumu sedang baik, berbicaralah dengan cara yang santun
agar Ibumu tak tersinggung”. Ungkapku kali ini dengan nada yang lebih pelan.
“Arrgh, kau seperti
tak mengenali Ibuku, pasti dia tak mau mendengarkan penjelasanku”. Ungkap Dika.
“Sudahku bilang, jangan menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak!! Kau terus saja
mengulanginya!! Seakan kau bisa melihat masa depan saja!!” Aku bener-benar
kesal pada Dika, dia selalu saja menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak. Dia hanya
menatapku dan tersenyum. Entah senyuman apa ini, lagi-lagi aku tak dapat
menerjemahkannya. Sesekali aku memalingkan wajahku, agar Dika tidak
terus-terusan menatapku.
“Setelah kau
lakukan usahamu, jangan lupa serahkan semua keputusan kepada Allah, biarkan Dia
yang menentukan. Serahkan semua keluh kesahmu kepada-Nya, pasti Dia akan
menjawabnya. Dia akan memberikan yang terbaik untuk mu, melalui cara-Nya.
Berdoalah. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Ujarku kali ini
dengan nada rendah, namun aku tak menampakkan wajahku padanya.
Aku terkejut. Tiba-tiba
saja Dika menggenggam tanganku, ku berontak ingin melepaskannya, namun tenagaku tak dapat menyamai tenaganya. Semakin aku berontak ingin
melepaskannya, semakin erat pula dia menggenggam tanganku.
“Lepaskan..!!
mau apa kau!! Lepaskan tanganku!!”
“Akan aku
lepaskan, setelah kau mendengarkan perkataan dari ku!!”
“Baiklah, apa?!
Cepat kau katakan, cepatlah agar tanganku cepat kau lepaskan!!” Aku ingin tahu,
sebenarnya apa yang ingin Dika katakan, sampai dia menggenggam tanganku. Duuuuaaarrrr!!
Bagaikan meriam meledak di dasar hati. Tak ku sangka ternyata kata yang
Dika ucapkan adalah kata “Terima Kasih”. Memang hanya kata sederhana yang
sering orang lain katakan. Yang membuat kata ini luar biasa adalah dikatakan
oleh seorang “Dika”.
Aku terdiam
sejenak memikirkan kembali kata yang Dika ucapkan tadi. Sembari dalam hati
bertanya “benarkah tadi Dika mengatakannya??” Dika hanya menatapku lalu
melepaskan tanganku, matanya kembali berkacah dan sesekali dia menengok jam
tangan yang dikenakannya, ku tahu hal itu dia lakukan agar aku tak melihat
kesedihannya.
Udara malam
kala itu semakin dingin, angin yang bertiup pelan namun serasa menusuk hingga
ke tulang rusuk. Menandakan bahwa malam semakin larut, jarum jam nampaknya
sudah menunjuk ke angka 1 dan 0, menandakan bahwa Dika harus segera pulang,
agar aku tak dimarahi ayahku.
Aku tak pernah
tahu apakah dia benar-benar mengerjakan semua saranku atau tidak, yang pasti
aku akan selalu menyelipkan do’a dalam setiap sujudku, semoga masalahnya cepat
terselesaikan, dan dia mendapatkan pilihan yang paling baik diantara yang
terbaik. Amin...
Setiap orang
pasti memiliki masalah, mungkin saja masalah yang kita keluhkan adalah cara
Allah untuk menguji ketaqwaan dan kesabaran kita. Ibarat mutiara di dalam
karang, ia terletak di dasar lautan, kita tak akan bisa menemukannya jika kita
hanya berenang dipermukaan.
Jangan katakan
pada Allah bahwa kita memiliki masalah, namun katakanlah pada masalah bahwa
kita memiliki Allah yang mampu merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi
mungkin. Dan Yakinlah bahwa masalah adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada
makhluk-Nya.
Laa Tahzan
Innallha Ma’ana.







