Cari Blog Ini
Mengenai Saya
Koleksi Terbaru Kami
kampanye media sosial
Kampanye Medsos??
sumber gambar : https://www.google.com/search?q=kampanye+sosmed&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiy3PvR5LncAhUL_GEKHW3jBw4Q_AUICigB#imgrc=u1TNgHynRZ5O7M:
Kampanye?? Apa yang terlintas dibenak anda ketika mendengar kata
“kampanye? Yuupss, kata ini sering di gandengkan dengan sesuatu yang berbau politik.
Kampanye adalah salah satu usaha yang dilakukan salah satu pihak untuk
memperoleh simpati dan dukungan dari pihak lain.
Umumnya kampanye dilakukan secara langsung, yaitu dengan cara
sosialisasi ke tempat yang menjadi target kampanye, atau dengan cara
mempromosikan mengenai “kelebihan” diri agar mendapat kepercayaan dari
masyarakat. Sehingga masyarakat memberikan dukungannya. Cara seperti ini masih
sangat manual.
Di era modern seperti saat ini, kampanye dilakukan dengan
memanfaatkan perkembangan IPTEK. Kampanye tidak hanya dilakukan secara manual. Saat
ini kampanye dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sosial media. Contohnya,
FB, Tweeter, dan sosial media yang paling marak digunakan untuk berkampanye
adalah Instagram.
Kampanye melalui sosial media nyatanya memiliki beberapa klebihan,
diantaranya:
1.
Jangkauan yang
luas dan tidak terbatas.
2.
Lebih menghemat
biaya, waktu dan tenaga.
3.
Mampu menampung
berbagai varian model kampanye.
Selain memiliki berbagai keuntungan, ternyata kampanye di sosial
media juga memiliki kelemahan, diantaranya:
1.
Terkadang
terjadi provokasi dan saling serang antar kubu
2.
Rawan
beredarnya berita hoax
3.
Kurangnya
ikatan emosional
4.
Tidak semua
orang menggunakan sosial media
5.
Kurang
menghargai antar kubu
6.
Tanpa sensor
7.
Resiko perpecahan
lebih tinggi
8.
Memunculkan
rasa kebencian anatar kubu
9.
Saling mencari
kesalahan lawan untuk di publikasikan
Boleh saja kampanye dilakukan di sosial media asalkan kampanye yang
dilakukan masih dalam batasan yang wajar, tidak saling singgung antar pihak dan
tetap mengedepankan etika serta tetap menghargai antar sesama.
Ditinjau dari segi kelebihan dan kekurangan kampanye sosial media yang
dimenangkan oleh kekurangannya, lebih baik kampanye dilakukan dengan cara
“manual” saja, untuk meminimalisir resiko perpecahan yang disebabkan karena saling
serang di sosial media. eeiittsss tapi semuanya bergantung pada yang menggunakan ya guys...
IKHTIYAR SANTRI, MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI
Berbicara
mengenai santri pasti berbicara pula mengenai pondok pesantren. Dimana pondok
pesantren merupakan tempat tinggal sekaligus tempat belajarnya para santri. Sebelum
mengkaji mengenai ikhtiyar santri dalam menjawab tantangan globalisasi, penulis
ingin mengkaji mengenai perbedaan sistem pendidikan nasional dan sisem
pendidikan pesantren.
Ditinjau dari
kata pesantren, berasal dari kata santri dengan awalan pe dan akhiran an,
yang artinya tempat tinggal santri. Harus diakui bahwa dewasa ini sistem
pendidikan kita sedang mengalami krisis moralitas, kemerosotan bahkan bisa
dikatakan mengecewakan. Salah satu indikatornya adalah semakin rendahnya
pelaksanaan kehidupan beragama dalam masyarakat kita. Pendidikan nasional kita
memang menghasilkan manusia super di bidang IPTEK, namun rendah dalam
nilai moralitas.
Korupsi,
kejahatan seksual, kekerasan, penggunaan narkoba dan penyimpangan moral yang
lain justru banyak dilakukan oleh mereka yang notabene nya berpangkat
sebagi elite masyarakat educated.
Pendidikan
harus secara sadar mendidik para anak didik untuk menjadi manusia yang memiliki
tata nilai yang mantap dan demokratis (Buchori, 2001: 84). Pendidikan harus
mampu membentuk hati dan perasaan anak didik, karena masalah nilai, jati diri,
dan sikap egaliter berkaitan dengan hati, bukan karena pengetahuan semata.
Pada hakikatnya
pendidikan merupakan alat transformasi yang efektif untuk menuju perubahan –
perubahan tertentu. Pendidikan hadir untuk membentuk manusia agar berhati
lembut, mengasihi antarsesama, dan bersikap manusiawi.
Globalisasi
adalah proses integrasi nasional yang terjadi karena pertukaran pandangan
dunia, produk pemikiran, dan aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur
transportasi, telekomunikasi termasuk internet termasuk faktor utama dari
globalisasi, yang mampu menghasilkan sifat saling ketergantungan bahkan
kecanduan.
Modernisasi dan
globalisasi yang sudah terjadi di segala sendi kehidupan merupakan konstribusi
pemikiran yang diberikan oleh dunia pendidikan.
Perkembangan
peradaban manusia harus diimbangi dengan upaya peningkatan kuantitas dan
kualitas pendidikan. Namun, harapan tersebut nampaknya perlahan hilang, seiring
dengan perkembangan peradaban manusia yang hidup dalam tradisi kapitalis.
Pendidikan yang ada sekarang hanyalah sebuah proses pembelajaran yang memaksa
anak didik untuk menaiki jenjang pendidikan yang tak berujung.
Globalisasi dan
modernisasi sebagai konstribusi pemikiran yang ditawarkan oleh dunia pendidikan
juga membawa dampak yang tidak kecil. Globalisasi melahirkan kebudayaan global
yang bersifat mendunia pada level internasional. Pada dasarnya globalisasi
merujuk pada perkembangaan yang sangat cepat dalam bidang teknologi,
komunikasi, trasportasi, dan informasi seperti internet, kini seolah menjadikan
dunia ada dalam genggaman. (Ahmed dan Donnan, 1994:1).
Diera modern
seperti ini, seharusnya pembinaan nilai moral keagamaan hendaknya menjadi
bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang secara keseluruhan
diajarkan di berbagai jenjang pendidikan.
Agama,
hendaknya masuk dalam pembinaan kepribadian seseorang sebagai penuntun dan
pengendali moral para anak didik. Namun mirisnya, kini agama hanya menjadi
sebatas pengetahuan (science) saja, tanpa dipraktiakan dengan tingkah
laku yang agamis.
Salah satu
indikator kegagalan pendidikan nilai moral keagamaan dapat kita lihat dari
perilaku generasi muda “terpelajar” masa kini yang cenderung apatis, arogan dan
immoral.
Pada
pertengahan dekade 90-an lahir generasi baru yang disebut dengan generasi mall.
Mereka berfantasi mengenai kehidupan serba enak dan nyaman. Generasi mall
kemudian dengan lahirnya generasi handphone, yaitu kecederungan remaja
untuk bercanda ria melalui handphone.
Lahirnya dua
generasi ini menghasilkan pola hidup yang konsumerisme dan memunculkan gaya
hidup baru yang disebut budaya mall. Suatu budaya yang mengadopsi wacana
dunia barat: pakaian serba ketat, serba instan, mahal, trendi dan lain
sebagainya. Semua itu merupakan sebagian contoh dari tantangan globalisasi.
Dewasa ini
sistem pendidikan di Indonesia hanya sebatas “transformasi ilmu”, yaitu sebuah
transformasi yang hanya melibatkan peran keilmuan guru dan kebodohan murid,
dengan tidak menekankan transformasi perilaku, moralitas, dan etika.
Berbeda halnya
dengan pendidikan pesantren, yang lebih memerhatikan pada aspek etika dan moral
dalam bentuk praktik yang nyata. Peningkatan kesejahteraan yang bersifat
material perlu diimbangi dengan kestabilan moral dan spiritual.
Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi tidak akan berarti tanpa didasari moralitas dan
spiritualitas religius yang kuat. Teknologi modern sebagai instrumen untuk
mencapai kesejahteraan dapat dipelajari dan diimport, tetapi kejujuran, keikhlasan,
dan kesabaran tidak dapat diimport dari manapun, melainkan dari pendidikan
agama.
Pendidikan
Islam harus mampu berhadapan dengan ombak globalisasi yang menyerang seluruh
sendi kehidupan. Maka dari itu pendidikan pesantren melalui para santrinya harus mampu menjadi
penggerak dan pengendali dalam tatanan kehidupan.
Para santri
harus mampu menjawab tantangan globalisasi, dengan tetap mengacu pada nilai dan
norma agama. Mereka juga harus mampu memilah apakah ide modernisasi itu senafas
dengan nilai keislaman, sehingga dapat diadopsi dan dikembangkan nantinya.
Melaui
pembelajaran yang berlangsung siang dan malam, memberikan kesempatan yang
sangat luas dalam hubungan antara pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian
para santri dapat menentukan keputusan sendiri dan melaksanakan keputusannya.
Solidaritas antar santri juga akan tumbuh dengan baik, mereka akan mengerti
mengenai sikap menghormati dan menghargai.
Di dalam pendidikan pesantren, para
santri juga akan mengerti mengenai nilai – nilai
berkehidupan dan beragama:
1.
Nilai
keikhlasan, berupa memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai bentuk
ibadah, yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan
tertentu.
2.
Nilai
kesederhanaan yang mengandung makna kekuatan dan ketabahan hati.
3.
Nilai ukhuwah
islamiyah yang demokratis.
4.
Nilai
kemandirian.
5.
Nilai
kebersamaan.
Dengan memegang
teguh kelima nilai tersebut para santri diharapkan dapat beradaptasi dan
menyikapi perubahan – perubahan tatanan kehidupan yang muncul akibat dari
globalisasi
Berikut
adalah beberapa tantangan yang muncul di era globalisasi:
1.
Sikap
Individualisme
Anak muda saat
ini, tak jarang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan
bersama, dampaknya sikap individualisme seperti ini dapat memudarkan rasa
solidaritas sosial di lingkungannya.
Terkait
menyikapi problematika seperti di atas, santri dituntut untuk menjalin ikatan
silaturahim dengan membentuk ikatan remaja masjid, mengikuti organisasi
masyarakat seperti IPNU – IPPNU. Harapannya dari kedua kegiatan tersebut dapat
terjalin sosialisasi antar anggota sehingga dapat meminimalisir munculnya sikap
individualisme di kalangan remaja, terutama dari kalangan santri.
Selain itu
upaya yang dilakukan juga dapat berupa mengikuti kegiatan – kegiatan yang
menitik beratkan pada kajian keislaman. Berdasarkan hadis “khoirunnas an
fa’uhum linnas” sebaik – baik
manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.
2.
Kemajuan IPTEK
Kemajuan IPTEK
seperti munculnya internet terkadang membuat “candu” bagi para penggunanya.
Kemajuan Iptek memang sedikit banyak berdampak positif dan negatif bagi
masyarakat.
Salah satu
dampak positifnya adalah lebih mudahnya kita dalam mengakses informasi, para
kalangan santri juga dapat berdakwah atau menyiarkan kebaikan melalui media
sosial. Namun disisi lain internet juga berdampak negatif, yaitu dapat membuat “candu”
bahkan ketergantungan bagi para penggunanya.
Menyikapi
masalah di atas, kalangan santri mendukung perkembangan Iptek, asalkan tetap
digunakan dalam hal kebaikan, dalam konteks kegiatan yang bersifat positif, dengan
tetap mempertimbangkan manfaat dan mahdhorotnya. Karena santri juga harus
mengikuti arus perkembangan zaman.
3.
Pergaulan
bebas, kemerosotan moralitas dan mentalitas dikalangan terpelajar.
Hal tersebut
adalah salah satu tantangan globalisasi yang paling berat. Dalam pembahasan
sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa pendidikan nasional hanya menekankan pada
aspek pengetahuan, tanpa diimbangi dengan penekanan pada aspek moralitas dan
mentalitas anak didiknya.
Disini seorang
santri harus mampu memberikan contoh sikap dan sifat yang baik, akhlak yang
baik, sopan – santun, (baik dalam perkataan, baik dalam perbuatan dan
tindakan), dengan demikian akan memberikan interaksi positif terhadap
lingkungan sekitar. Karena segala
sesuatu dimulai dari diri kita sendiri, tingkah laku yang baik akan
menghasilkan lingkungan yang baik pula.
Contoh diatas adalah sedikit dari banyaknya tantangan globalisasi. Pendidikan
moral atau akhlak merupakan suatu proses fungsionalisme agama. Keberagamaan
tidak akan berarti tanpa dibuktikan dengan moral yang terpuji.
Ralitas pelajar kita saat ini cenderung malas, sering melanggar
aturan dan norma – norma kehidupan bahkan cenderung brutal dan anarkis, sikap
seperti itu menunjukkan betapa rapuhnya
moral mereka diera yang serba modern seperti ini. Hal semacam ini menjadi
tantangan bagi para santri guna mengambil inisiatif dalam menegakkan konsep “amar
ma’ruf nahyi munkar”. Disini santri dituntut untuk bisa bertindak secara
nyata sebagai agent of change, bukan hanya sekedar bisa “ngaji”.
Daftar
Pustaka:
Untung,
Moh. Slamet. Wacana Islam Kontemporer. Pekalongan: STAIN Pekalongan
Press. 2011.
Wawancara
dengan Khafidzin, santri Pondok Pesantren Salafi Wonopringgo – Pekalongan.
Wawancara
dengan Fadli Abiguz Zuhri, Santri Pondok Pesantren Al Ishlah Darussalam –
Semarang, Mahasiswa IAIN Pekalongan.
Wawancara
dengan Muhammad Fahmi, Santri Pondok Pesantren Al – Anwar, Mranggen – Demak,
Mahasiswa IAIN Pekalongan.
Cerpen Islami
Laa Tahzan
Assalamu’alaikum
kawan, semoga kesehatan selalu menyertai kita: Laa
Tahzan, TAK ADA MASALAH TANPA SOLUSI, BERDO’ALAH SEMUA MASALAH PASTI DAPAT TERATASI.
Simak saja sepenggal kisah ini...
Aku Diyan, namaku adalah Diyan.
Mulanya aku terheran, ketika teman kecilku yang kini telah beranjak
dewasa untuk pertama kalinya menghubungiku. Sungguh sulit untuk dipercaya, Dika
yang terkenal dengan pria acuh dan selalu menyembunyikan perasaannya kali ini
dia mau membagi “masalahnya” kepadaku.
Sabtu malam, kala itu kudengar suara motor berhenti di depan rumahku.
Aku bergegas membukakan pintu, ku yakin pasti Dika yang datang. Benar saja
tebakanku, Dika yang datang. Tanpa berfikir panjang, ku persilakan dia masuk
dan duduk di kursi yang sudah tidak muda lagi usianya.
Sekilas ku tatap wajahnya, kali ini dia terlihat tak seperti biasa,
dahinya tiba-tiba mengerut seakan memberi isyarat pada ku bahwa dia sedang
banyak pikiran. Belum sempat aku tanyakan maksud kedatangannya, dia sudah mencurahkan
isi hatinya “Ku harap suatu hari nanti aku bisa terlepas dari masalah ini,
masalah yang selalu menghantuiku, ini masalahku, masalahku sendiri”. Ungkap Dika yang kala itu duduk disampingku.
Aku terdiam sejenak, dalam hati ku bertanya “ada apa dengan anak
ini?”. Dia menatapku, matanya yang berkacah seakan ingin meneteskan air mata,
namun seperti ada batu yang menghalanginya. “Kau kenapa? Ada masalah apa?”.
Ku coba untuk menanyakan tentang masalahnya.
Dia hanya terdiam dan merunduk, seakan tak ingin memperlihatkan
kesedihannya padaku. Aku mengulangi pertanyaan ku “Sebenarnya kau kenapa?,
percuma saja kau datang, jika kau hanya diam membisu!!”. Ujarku.
Dika mengangkat kepalanya, dan kembali menatapku, entah ini tatapan
apa, terlihat sulit sekali untuk diterjemahkan. Seperti ada banyak hal yang
ingin dia ungkapkan kepadaku, namun lagi dan lagi, dia hanya menahannya. Yang
aku takutkan, jika dia sakit hati karena perkatanku tadi, dan tak jadi
bercerita lalu pergi meninggalkanku, mengingat dulu Dika adalah anak yang
gampang ngambek. Huffft, akhirnya... aku lega, kali ini kekhawatiranku
tak terjadi.
“Yan, sebenarnya aku mendaftarkan diri di Akademi Kepolisian”.
Ungkapnya dengan nada datar. Aku terkejut sekaligus heran, ternyata masuk ke
AKPOL adalah masalahnya.
“Wow, hebat!!
Lalu ? dimana masalahnya?”. Dengan nada yang penuh antusias aku menanggapi
pernyataannya.
“Sejak kecil,
aku bercita-cita untuk menjadi seorang polisi, Ibuku adalah orang pertama yang
mendukungku. Namun, tak ku sangka ternyata banyak sekali halangannya. Pertama,
kau tahu kan? Jikalau aku bukanlah seorang dari kalangan berada? Biaya mengurus
berkas untuk menjadi seorang Polisi tidaklah sedikit!!”.
“Kedua, batas
terakhir pengumpulan berkas adalah hari ini, dan masih banyak berkas yang belum
ditanda tangani oleh pihak yang bersangkutan”.
“Belum lagi
sikap dari seorang Polisi yang kutemui tadi, dia menawariku untuk masuk ke
AKPOL dengan cara yang tidak sehat, dengan kepastian aku diterima menjadi
seorang polisi, namun dengan biaya yang lebih mahal”. Ujar dia, nampaknya kesal
dengan polisi yang ditemuinya tadi.
“Lantas kau
menerimanya?”. Tanyaku padanya. “Tiddak!!, jika untuk menjadi aparat yang
bertugas untuk mengayomi dan melindungi masyarakat sudah dilakukan dengan cara
yang tidak benar, lantas dimana letak kejujurannya? Sedangkan kejujuran adalah
nilai yang utama dalam hal ini”. Aku terdiam mendengar jawabannya, tak ku
sangka teman kecilku sekarang mampu berfikir dengan bijaksana.
“Hufft,
nampaknya langkahku harus terhenti sampai di sini”. Ujarnya dengan nada pasrah.
“Apa tak ada
cara lain? Apa kau tak bisa meminta toleransi?”. Tanyaku padanya.
“Jelas tidak
ada!!, mereka adalah lembaga yang sangat disiplin, bagaimana bisa mereka
memberi toleransi terhadap keterlambatan pengumpulan berkas???!!”. Ungkap Dika
dengan nada tinggi. Aku terkejut, seakan dia baru saja membentakku.
“Tapi...
bagaimana dengan Ibuku?? Ibuku belum tahu mengenai hal ini. Ibuku masih saja
bersiteguh menyuruhku masukke AKPOL padahal sudah jelas sekali bahwa aku tak
dapat melanjutkannya”.
Dika terdiam
sambil sesekali dia menyeruput teh panas yang ku sediakan. Setelah sekian lama
aku tunggu kesempatan dia diam, akhirnya aku mendapatkannya. Kini giliran ku
yang berbicara “Sudah? Sudah kau keluarkan semua masalahmu? Sekarang giliranku
yang berbicara!!!”. Ungkapku dengan nada yang sedikit membentak. Dika terdiam
dan menatapku.
“Sekarang aku
paham masalahmu, ibarat makan buah simalakama, sekarang keputusan ada di tangan
mu, lanjutkan atau hentikan. Masuk ke AKPOL adalah cita-cita mu, bahkan Ibumu
telah memberikan restunya kepadamu, saranku sebaiknya kau lanjutkan saja
perjuanganmu! Untuk masalah keterlambatan pengumulan berkas cobalah kau datang
dan meminta toleransi dengan baik, kemungkinan dapat diterima jika alasanmu
rasional!” Ungkapku secara tegas.
“Sudah ku
bilang pasti mereka tidak bisa menerimanya”. Ujar Dika. “Dari dulu hingga
sekarang sifatmu yang suka menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak nampaknya
belum hilang!! Coba saja dulu baru berkomentar!!” Kali ini aku mulai kesal,
sifat lamanya yang suka ngenyel dan suka menyimpulkan sesuatu sebelum
bertindak nampaknya belum hilang.
“Untuk Ibumu,
berbicaralah kepada Ibumu ketika kau sudah melakukan nasihatku yang pertama, berbicaralah
ketika suasana hati Ibumu sedang baik, berbicaralah dengan cara yang santun
agar Ibumu tak tersinggung”. Ungkapku kali ini dengan nada yang lebih pelan.
“Arrgh, kau seperti
tak mengenali Ibuku, pasti dia tak mau mendengarkan penjelasanku”. Ungkap Dika.
“Sudahku bilang, jangan menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak!! Kau terus saja
mengulanginya!! Seakan kau bisa melihat masa depan saja!!” Aku bener-benar
kesal pada Dika, dia selalu saja menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak. Dia hanya
menatapku dan tersenyum. Entah senyuman apa ini, lagi-lagi aku tak dapat
menerjemahkannya. Sesekali aku memalingkan wajahku, agar Dika tidak
terus-terusan menatapku.
“Setelah kau
lakukan usahamu, jangan lupa serahkan semua keputusan kepada Allah, biarkan Dia
yang menentukan. Serahkan semua keluh kesahmu kepada-Nya, pasti Dia akan
menjawabnya. Dia akan memberikan yang terbaik untuk mu, melalui cara-Nya.
Berdoalah. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Ujarku kali ini
dengan nada rendah, namun aku tak menampakkan wajahku padanya.
Aku terkejut. Tiba-tiba
saja Dika menggenggam tanganku, ku berontak ingin melepaskannya, namun tenagaku tak dapat menyamai tenaganya. Semakin aku berontak ingin
melepaskannya, semakin erat pula dia menggenggam tanganku.
“Lepaskan..!!
mau apa kau!! Lepaskan tanganku!!”
“Akan aku
lepaskan, setelah kau mendengarkan perkataan dari ku!!”
“Baiklah, apa?!
Cepat kau katakan, cepatlah agar tanganku cepat kau lepaskan!!” Aku ingin tahu,
sebenarnya apa yang ingin Dika katakan, sampai dia menggenggam tanganku. Duuuuaaarrrr!!
Bagaikan meriam meledak di dasar hati. Tak ku sangka ternyata kata yang
Dika ucapkan adalah kata “Terima Kasih”. Memang hanya kata sederhana yang
sering orang lain katakan. Yang membuat kata ini luar biasa adalah dikatakan
oleh seorang “Dika”.
Aku terdiam
sejenak memikirkan kembali kata yang Dika ucapkan tadi. Sembari dalam hati
bertanya “benarkah tadi Dika mengatakannya??” Dika hanya menatapku lalu
melepaskan tanganku, matanya kembali berkacah dan sesekali dia menengok jam
tangan yang dikenakannya, ku tahu hal itu dia lakukan agar aku tak melihat
kesedihannya.
Udara malam
kala itu semakin dingin, angin yang bertiup pelan namun serasa menusuk hingga
ke tulang rusuk. Menandakan bahwa malam semakin larut, jarum jam nampaknya
sudah menunjuk ke angka 1 dan 0, menandakan bahwa Dika harus segera pulang,
agar aku tak dimarahi ayahku.
Aku tak pernah
tahu apakah dia benar-benar mengerjakan semua saranku atau tidak, yang pasti
aku akan selalu menyelipkan do’a dalam setiap sujudku, semoga masalahnya cepat
terselesaikan, dan dia mendapatkan pilihan yang paling baik diantara yang
terbaik. Amin...
Setiap orang
pasti memiliki masalah, mungkin saja masalah yang kita keluhkan adalah cara
Allah untuk menguji ketaqwaan dan kesabaran kita. Ibarat mutiara di dalam
karang, ia terletak di dasar lautan, kita tak akan bisa menemukannya jika kita
hanya berenang dipermukaan.
Jangan katakan
pada Allah bahwa kita memiliki masalah, namun katakanlah pada masalah bahwa
kita memiliki Allah yang mampu merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi
mungkin. Dan Yakinlah bahwa masalah adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada
makhluk-Nya.
Laa Tahzan
Innallha Ma’ana.








