Jasa Pengiriman

Cari Blog Ini

Archives

Koleksi Terbaru Kami
DETAIL PRODUK

kampanye media sosial



Kampanye Medsos??



 
sumber gambar : https://www.google.com/search?q=kampanye+sosmed&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiy3PvR5LncAhUL_GEKHW3jBw4Q_AUICigB#imgrc=u1TNgHynRZ5O7M: 
 
Kampanye?? Apa yang terlintas dibenak anda ketika mendengar kata “kampanye? Yuupss, kata ini sering di gandengkan dengan sesuatu yang berbau politik. Kampanye adalah salah satu usaha yang dilakukan salah satu pihak untuk memperoleh simpati dan dukungan dari pihak lain.
Umumnya kampanye dilakukan secara langsung, yaitu dengan cara sosialisasi ke tempat yang menjadi target kampanye, atau dengan cara mempromosikan mengenai “kelebihan” diri agar mendapat kepercayaan dari masyarakat. Sehingga masyarakat memberikan dukungannya. Cara seperti ini masih sangat manual.
Di era modern seperti saat ini, kampanye dilakukan dengan memanfaatkan perkembangan IPTEK. Kampanye tidak hanya dilakukan secara manual. Saat ini kampanye dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sosial media. Contohnya, FB, Tweeter, dan sosial media yang paling marak digunakan untuk berkampanye adalah Instagram.
Kampanye melalui sosial media nyatanya memiliki beberapa klebihan, diantaranya:
1.    Jangkauan yang luas dan tidak terbatas.
2.    Lebih menghemat biaya, waktu dan tenaga.
3.    Mampu menampung berbagai varian model kampanye.
Selain memiliki berbagai keuntungan, ternyata kampanye di sosial media juga memiliki kelemahan, diantaranya:
1.    Terkadang terjadi provokasi dan saling serang antar kubu
2.    Rawan beredarnya berita hoax
3.    Kurangnya ikatan emosional
4.    Tidak semua orang menggunakan sosial media
5.    Kurang menghargai antar kubu
6.    Tanpa sensor
7.    Resiko perpecahan lebih tinggi
8.    Memunculkan rasa kebencian anatar kubu
9.    Saling mencari kesalahan lawan untuk di publikasikan
Boleh saja kampanye dilakukan di sosial media asalkan kampanye yang dilakukan masih dalam batasan yang wajar, tidak saling singgung antar pihak dan tetap mengedepankan etika serta tetap menghargai antar sesama.
Ditinjau dari  segi kelebihan dan kekurangan kampanye sosial media yang dimenangkan oleh kekurangannya, lebih baik kampanye dilakukan dengan cara “manual” saja, untuk meminimalisir resiko perpecahan yang disebabkan karena saling serang di sosial media. eeiittsss tapi semuanya bergantung pada yang menggunakan ya guys...
DETAIL PRODUK

IKHTIYAR SANTRI, MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI
Berbicara mengenai santri pasti berbicara pula mengenai pondok pesantren. Dimana pondok pesantren merupakan tempat tinggal sekaligus tempat belajarnya para santri. Sebelum mengkaji mengenai ikhtiyar santri dalam menjawab tantangan globalisasi, penulis ingin mengkaji mengenai perbedaan sistem pendidikan nasional dan sisem pendidikan pesantren.
Ditinjau dari kata pesantren, berasal dari kata santri dengan awalan pe dan akhiran an, yang artinya tempat tinggal santri. Harus diakui bahwa dewasa ini sistem pendidikan kita sedang mengalami krisis moralitas, kemerosotan bahkan bisa dikatakan mengecewakan. Salah satu indikatornya adalah semakin rendahnya pelaksanaan kehidupan beragama dalam masyarakat kita. Pendidikan nasional kita memang menghasilkan manusia super di bidang IPTEK, namun rendah dalam nilai moralitas.
Korupsi, kejahatan seksual, kekerasan, penggunaan narkoba dan penyimpangan moral yang lain justru banyak dilakukan oleh mereka yang notabene nya berpangkat sebagi elite masyarakat educated.
Pendidikan harus secara sadar mendidik para anak didik untuk menjadi manusia yang memiliki tata nilai yang mantap dan demokratis (Buchori, 2001: 84). Pendidikan harus mampu membentuk hati dan perasaan anak didik, karena masalah nilai, jati diri, dan sikap egaliter berkaitan dengan hati, bukan karena pengetahuan semata.
Pada hakikatnya pendidikan merupakan alat transformasi yang efektif untuk menuju perubahan – perubahan tertentu. Pendidikan hadir untuk membentuk manusia agar berhati lembut, mengasihi antarsesama, dan bersikap manusiawi.
Globalisasi adalah proses integrasi nasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk pemikiran, dan aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi, telekomunikasi termasuk internet termasuk faktor utama dari globalisasi, yang mampu menghasilkan sifat saling ketergantungan bahkan kecanduan.
Modernisasi dan globalisasi yang sudah terjadi di segala sendi kehidupan merupakan konstribusi pemikiran yang diberikan oleh dunia pendidikan.
Perkembangan peradaban manusia harus diimbangi dengan upaya peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan. Namun, harapan tersebut nampaknya perlahan hilang, seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang hidup dalam tradisi kapitalis. Pendidikan yang ada sekarang hanyalah sebuah proses pembelajaran yang memaksa anak didik untuk menaiki jenjang pendidikan yang tak berujung.
Globalisasi dan modernisasi sebagai konstribusi pemikiran yang ditawarkan oleh dunia pendidikan juga membawa dampak yang tidak kecil. Globalisasi melahirkan kebudayaan global yang bersifat mendunia pada level internasional. Pada dasarnya globalisasi merujuk pada perkembangaan yang sangat cepat dalam bidang teknologi, komunikasi, trasportasi, dan informasi seperti internet, kini seolah menjadikan dunia ada dalam genggaman. (Ahmed dan Donnan, 1994:1).
Diera modern seperti ini, seharusnya pembinaan nilai moral keagamaan hendaknya menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang secara keseluruhan diajarkan di berbagai jenjang pendidikan.
Agama, hendaknya masuk dalam pembinaan kepribadian seseorang sebagai penuntun dan pengendali moral para anak didik. Namun mirisnya, kini agama hanya menjadi sebatas pengetahuan (science) saja, tanpa dipraktiakan dengan tingkah laku yang agamis.
Salah satu indikator kegagalan pendidikan nilai moral keagamaan dapat kita lihat dari perilaku generasi muda “terpelajar” masa kini yang cenderung apatis, arogan dan immoral.
Pada pertengahan dekade 90-an lahir generasi baru yang disebut dengan generasi mall. Mereka berfantasi mengenai kehidupan serba enak dan nyaman. Generasi mall kemudian dengan lahirnya generasi handphone, yaitu kecederungan remaja untuk bercanda ria melalui handphone.
Lahirnya dua generasi ini menghasilkan pola hidup yang konsumerisme dan memunculkan gaya hidup baru yang disebut budaya mall. Suatu budaya yang mengadopsi wacana dunia barat: pakaian serba ketat, serba instan, mahal, trendi dan lain sebagainya. Semua itu merupakan sebagian contoh dari tantangan globalisasi.
Dewasa ini sistem pendidikan di Indonesia hanya sebatas “transformasi ilmu”, yaitu sebuah transformasi yang hanya melibatkan peran keilmuan guru dan kebodohan murid, dengan tidak menekankan transformasi perilaku, moralitas, dan etika.
Berbeda halnya dengan pendidikan pesantren, yang lebih memerhatikan pada aspek etika dan moral dalam bentuk praktik yang nyata. Peningkatan kesejahteraan yang bersifat material perlu diimbangi dengan kestabilan moral dan spiritual.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan berarti tanpa didasari moralitas dan spiritualitas religius yang kuat. Teknologi modern sebagai instrumen untuk mencapai kesejahteraan dapat dipelajari dan diimport, tetapi kejujuran, keikhlasan, dan kesabaran tidak dapat diimport dari manapun, melainkan dari pendidikan agama.
Pendidikan Islam harus mampu berhadapan dengan ombak globalisasi yang menyerang seluruh sendi kehidupan. Maka dari itu pendidikan pesantren  melalui para santrinya harus mampu menjadi penggerak dan pengendali dalam tatanan kehidupan.
Para santri harus mampu menjawab tantangan globalisasi, dengan tetap mengacu pada nilai dan norma agama. Mereka juga harus mampu memilah apakah ide modernisasi itu senafas dengan nilai keislaman, sehingga dapat diadopsi dan dikembangkan nantinya.
Melaui pembelajaran yang berlangsung siang dan malam, memberikan kesempatan yang sangat luas dalam hubungan antara pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian para santri dapat menentukan keputusan sendiri dan melaksanakan keputusannya. Solidaritas antar santri juga akan tumbuh dengan baik, mereka akan mengerti mengenai sikap menghormati dan menghargai.
Di dalam pendidikan pesantren, para santri juga akan mengerti mengenai nilai – nilai
berkehidupan dan beragama:
1.    Nilai keikhlasan, berupa memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai bentuk ibadah, yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan tertentu.
2.    Nilai kesederhanaan yang mengandung makna kekuatan dan ketabahan hati.
3.    Nilai ukhuwah islamiyah yang demokratis.
4.    Nilai kemandirian.
5.    Nilai kebersamaan.
Dengan memegang teguh kelima nilai tersebut para santri diharapkan dapat beradaptasi dan menyikapi perubahan – perubahan tatanan kehidupan yang muncul akibat dari globalisasi
Berikut adalah beberapa tantangan yang muncul di era globalisasi:
1.    Sikap Individualisme
Anak muda saat ini, tak jarang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama, dampaknya sikap individualisme seperti ini dapat memudarkan rasa solidaritas sosial di lingkungannya.
Terkait menyikapi problematika seperti di atas, santri dituntut untuk menjalin ikatan silaturahim dengan membentuk ikatan remaja masjid, mengikuti organisasi masyarakat seperti IPNU – IPPNU. Harapannya dari kedua kegiatan tersebut dapat terjalin sosialisasi antar anggota sehingga dapat meminimalisir munculnya sikap individualisme di kalangan remaja, terutama dari kalangan santri.
Selain itu upaya yang dilakukan juga dapat berupa mengikuti kegiatan – kegiatan yang menitik beratkan pada kajian keislaman. Berdasarkan hadis “khoirunnas an fa’uhum linnassebaik – baik  manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.
2.    Kemajuan IPTEK
Kemajuan IPTEK seperti munculnya internet terkadang membuat “candu” bagi para penggunanya. Kemajuan Iptek memang sedikit banyak berdampak positif dan negatif bagi masyarakat.
Salah satu dampak positifnya adalah lebih mudahnya kita dalam mengakses informasi, para kalangan santri juga dapat berdakwah atau menyiarkan kebaikan melalui media sosial. Namun disisi lain internet juga berdampak negatif, yaitu dapat membuat “candu” bahkan ketergantungan bagi para penggunanya.
Menyikapi masalah di atas, kalangan santri mendukung perkembangan Iptek, asalkan tetap digunakan dalam hal kebaikan, dalam konteks kegiatan yang bersifat positif, dengan tetap mempertimbangkan manfaat dan mahdhorotnya. Karena santri juga harus mengikuti arus perkembangan zaman.
3.    Pergaulan bebas, kemerosotan moralitas dan mentalitas dikalangan terpelajar.
Hal tersebut adalah salah satu tantangan globalisasi yang paling berat. Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa pendidikan nasional hanya menekankan pada aspek pengetahuan, tanpa diimbangi dengan penekanan pada aspek moralitas dan mentalitas anak didiknya.
Disini seorang santri harus mampu memberikan contoh sikap dan sifat yang baik, akhlak yang baik, sopan – santun, (baik dalam perkataan, baik dalam perbuatan dan tindakan), dengan demikian akan memberikan interaksi positif terhadap lingkungan sekitar. Karena  segala sesuatu dimulai dari diri kita sendiri, tingkah laku yang baik akan menghasilkan lingkungan yang baik pula.
Contoh diatas adalah sedikit dari banyaknya tantangan globalisasi. Pendidikan moral atau akhlak merupakan suatu proses fungsionalisme agama. Keberagamaan tidak akan berarti tanpa dibuktikan dengan moral yang terpuji.
Ralitas pelajar kita saat ini cenderung malas, sering melanggar aturan dan norma – norma kehidupan bahkan cenderung brutal dan anarkis, sikap seperti itu  menunjukkan betapa rapuhnya moral mereka diera yang serba modern seperti ini. Hal semacam ini menjadi tantangan bagi para santri guna mengambil inisiatif dalam menegakkan konsep “amar ma’ruf nahyi munkar”. Disini santri dituntut untuk bisa bertindak secara nyata sebagai agent of change, bukan hanya sekedar bisa “ngaji”.





Daftar Pustaka:
Untung, Moh. Slamet. Wacana Islam Kontemporer. Pekalongan: STAIN Pekalongan
Press. 2011.

Wawancara dengan Khafidzin, santri Pondok Pesantren Salafi Wonopringgo – Pekalongan.

Wawancara dengan Fadli Abiguz Zuhri, Santri Pondok Pesantren Al Ishlah Darussalam – Semarang, Mahasiswa IAIN Pekalongan.

Wawancara dengan Muhammad Fahmi, Santri Pondok Pesantren Al – Anwar, Mranggen – Demak, Mahasiswa IAIN Pekalongan.


DETAIL PRODUK

Cerpen Islami



Laa Tahzan

Assalamu’alaikum kawan, semoga kesehatan selalu menyertai kita: Laa Tahzan, TAK ADA MASALAH TANPA SOLUSI, BERDO’ALAH SEMUA MASALAH PASTI DAPAT TERATASI.
Simak saja sepenggal kisah ini...

Aku Diyan, namaku adalah Diyan.
Mulanya aku terheran, ketika teman kecilku yang kini telah beranjak dewasa untuk pertama kalinya menghubungiku. Sungguh sulit untuk dipercaya, Dika yang terkenal dengan pria acuh dan selalu menyembunyikan perasaannya kali ini dia mau membagi “masalahnya” kepadaku.

Sabtu malam, kala itu kudengar suara motor berhenti di depan rumahku. Aku bergegas membukakan pintu, ku yakin pasti Dika yang datang. Benar saja tebakanku, Dika yang datang. Tanpa berfikir panjang, ku persilakan dia masuk dan duduk di kursi yang sudah tidak muda lagi usianya.

Sekilas ku tatap wajahnya, kali ini dia terlihat tak seperti biasa, dahinya tiba-tiba mengerut seakan memberi isyarat pada ku bahwa dia sedang banyak pikiran. Belum sempat aku tanyakan maksud kedatangannya, dia sudah mencurahkan isi hatinya “Ku harap suatu hari nanti aku bisa terlepas dari masalah ini, masalah yang selalu menghantuiku, ini masalahku, masalahku sendiri”. Ungkap  Dika yang kala itu duduk disampingku.

Aku terdiam sejenak, dalam hati ku bertanya “ada apa dengan anak ini?”. Dia menatapku, matanya yang berkacah seakan ingin meneteskan air mata, namun seperti ada batu yang menghalanginya. “Kau kenapa? Ada masalah apa?”. Ku coba untuk menanyakan tentang masalahnya.

Dia hanya terdiam dan merunduk, seakan tak ingin memperlihatkan kesedihannya padaku. Aku mengulangi pertanyaan ku “Sebenarnya kau kenapa?, percuma saja kau datang, jika kau hanya diam membisu!!”. Ujarku. 

Dika mengangkat kepalanya, dan kembali menatapku, entah ini tatapan apa, terlihat sulit sekali untuk diterjemahkan. Seperti ada banyak hal yang ingin dia ungkapkan kepadaku, namun lagi dan lagi, dia hanya menahannya. Yang aku takutkan, jika dia sakit hati karena perkatanku tadi, dan tak jadi bercerita lalu pergi meninggalkanku, mengingat dulu Dika adalah anak yang gampang ngambek. Huffft, akhirnya... aku lega, kali ini kekhawatiranku tak terjadi. 

“Yan, sebenarnya aku mendaftarkan diri di Akademi Kepolisian”. Ungkapnya dengan nada datar. Aku terkejut sekaligus heran, ternyata masuk ke AKPOL adalah masalahnya.
“Wow, hebat!! Lalu ? dimana masalahnya?”. Dengan nada yang penuh antusias aku menanggapi pernyataannya.
“Sejak kecil, aku bercita-cita untuk menjadi seorang polisi, Ibuku adalah orang pertama yang mendukungku. Namun, tak ku sangka  ternyata banyak sekali halangannya. Pertama, kau tahu kan? Jikalau aku bukanlah seorang dari kalangan berada? Biaya mengurus berkas untuk menjadi seorang Polisi tidaklah sedikit!!”.
“Kedua, batas terakhir pengumpulan berkas adalah hari ini, dan masih banyak berkas yang belum ditanda tangani oleh pihak yang bersangkutan”.
“Belum lagi sikap dari seorang Polisi yang kutemui tadi, dia menawariku untuk masuk ke AKPOL dengan cara yang tidak sehat, dengan kepastian aku diterima menjadi seorang polisi, namun dengan biaya yang lebih mahal”. Ujar dia, nampaknya kesal dengan polisi yang ditemuinya tadi.
“Lantas kau menerimanya?”. Tanyaku padanya. “Tiddak!!, jika untuk menjadi aparat yang bertugas untuk mengayomi dan melindungi masyarakat sudah dilakukan dengan cara yang tidak benar, lantas dimana letak kejujurannya? Sedangkan kejujuran adalah nilai yang utama dalam hal ini”. Aku terdiam mendengar jawabannya, tak ku sangka teman kecilku sekarang mampu berfikir dengan bijaksana.

“Hufft, nampaknya langkahku harus terhenti sampai di sini”. Ujarnya dengan nada pasrah.
“Apa tak ada cara lain? Apa kau tak bisa meminta toleransi?”. Tanyaku padanya.
“Jelas tidak ada!!, mereka adalah lembaga yang sangat disiplin, bagaimana bisa mereka memberi toleransi terhadap keterlambatan pengumpulan berkas???!!”. Ungkap Dika dengan nada tinggi. Aku terkejut, seakan dia baru saja membentakku.
“Tapi... bagaimana dengan Ibuku?? Ibuku belum tahu mengenai hal ini. Ibuku masih saja bersiteguh menyuruhku masukke AKPOL padahal sudah jelas sekali bahwa aku tak dapat melanjutkannya”. 

Dika terdiam sambil sesekali dia menyeruput teh panas yang ku sediakan. Setelah sekian lama aku tunggu kesempatan dia diam, akhirnya aku mendapatkannya. Kini giliran ku yang berbicara “Sudah? Sudah kau keluarkan semua masalahmu? Sekarang giliranku yang berbicara!!!”. Ungkapku dengan nada yang sedikit membentak. Dika terdiam dan menatapku. 

“Sekarang aku paham masalahmu, ibarat makan buah simalakama, sekarang keputusan ada di tangan mu, lanjutkan atau hentikan. Masuk ke AKPOL adalah cita-cita mu, bahkan Ibumu telah memberikan restunya kepadamu, saranku sebaiknya kau lanjutkan saja perjuanganmu! Untuk masalah keterlambatan pengumulan berkas cobalah kau datang dan meminta toleransi dengan baik, kemungkinan dapat diterima jika alasanmu rasional!” Ungkapku secara tegas. 

“Sudah ku bilang pasti mereka tidak bisa menerimanya”. Ujar Dika. “Dari dulu hingga sekarang sifatmu yang suka menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak nampaknya belum hilang!! Coba saja dulu baru berkomentar!!” Kali ini aku mulai kesal, sifat lamanya yang suka ngenyel dan suka menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak nampaknya belum hilang. 

“Untuk Ibumu, berbicaralah kepada Ibumu ketika kau sudah melakukan nasihatku yang pertama, berbicaralah ketika suasana hati Ibumu sedang baik, berbicaralah dengan cara yang santun agar Ibumu tak tersinggung”. Ungkapku kali ini dengan nada yang lebih pelan.

“Arrgh, kau seperti tak mengenali Ibuku, pasti dia tak mau mendengarkan penjelasanku”. Ungkap Dika. “Sudahku bilang, jangan menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak!! Kau terus saja mengulanginya!! Seakan kau bisa melihat masa depan saja!!” Aku bener-benar kesal pada Dika, dia selalu saja menyimpulkan sesuatu sebelum bertindak. Dia hanya menatapku dan tersenyum. Entah senyuman apa ini, lagi-lagi aku tak dapat menerjemahkannya. Sesekali aku memalingkan wajahku, agar Dika tidak terus-terusan menatapku.

“Setelah kau lakukan usahamu, jangan lupa serahkan semua keputusan kepada Allah, biarkan Dia yang menentukan. Serahkan semua keluh kesahmu kepada-Nya, pasti Dia akan menjawabnya. Dia akan memberikan yang terbaik untuk mu, melalui cara-Nya. Berdoalah. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Ujarku kali ini dengan nada rendah, namun aku tak menampakkan wajahku padanya.

Aku terkejut. Tiba-tiba saja Dika menggenggam tanganku, ku berontak ingin melepaskannya, namun tenagaku tak dapat menyamai tenaganya. Semakin aku berontak ingin melepaskannya, semakin erat pula dia menggenggam tanganku.
“Lepaskan..!! mau apa kau!! Lepaskan tanganku!!”
“Akan aku lepaskan, setelah kau mendengarkan perkataan dari ku!!”
“Baiklah, apa?! Cepat kau katakan, cepatlah agar tanganku cepat kau lepaskan!!” Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang ingin Dika katakan, sampai dia menggenggam tanganku. Duuuuaaarrrr!! Bagaikan meriam meledak di dasar hati. Tak ku sangka ternyata kata yang Dika ucapkan adalah kata “Terima Kasih”. Memang hanya kata sederhana yang sering orang lain katakan. Yang membuat kata ini luar biasa adalah dikatakan oleh seorang “Dika”.

Aku terdiam sejenak memikirkan kembali kata yang Dika ucapkan tadi. Sembari dalam hati bertanya “benarkah tadi Dika mengatakannya??” Dika hanya menatapku lalu melepaskan tanganku, matanya kembali berkacah dan sesekali dia menengok jam tangan yang dikenakannya, ku tahu hal itu dia lakukan agar aku tak melihat kesedihannya. 

Udara malam kala itu semakin dingin, angin yang bertiup pelan namun serasa menusuk hingga ke tulang rusuk. Menandakan bahwa malam semakin larut, jarum jam nampaknya sudah menunjuk ke angka 1 dan 0, menandakan bahwa Dika harus segera pulang, agar  aku tak dimarahi ayahku.

Aku tak pernah tahu apakah dia benar-benar mengerjakan semua saranku atau tidak, yang pasti aku akan selalu menyelipkan do’a dalam setiap sujudku, semoga masalahnya cepat terselesaikan, dan dia mendapatkan pilihan yang paling baik diantara yang terbaik. Amin...

Setiap orang pasti memiliki masalah, mungkin saja masalah yang kita keluhkan adalah cara Allah untuk menguji ketaqwaan dan kesabaran kita. Ibarat mutiara di dalam karang, ia terletak di dasar lautan, kita tak akan bisa menemukannya jika kita hanya berenang dipermukaan.
Jangan katakan pada Allah bahwa kita memiliki masalah, namun katakanlah pada masalah bahwa kita memiliki Allah yang mampu merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dan Yakinlah bahwa masalah adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada makhluk-Nya.


Laa Tahzan Innallha Ma’ana.
DETAIL PRODUK
 
Copyright © 2017. FLATSHOP Template - Design by: idBLOGSPOT